Janji Sepertiga Malam

https://3.bp.blogspot.com

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Allah turun ke langit bumi, pada sepertiga malam terakhir. Allah berseru,

مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ، وَمَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

“Adakah hambaKu yang berdoa padaKu? Niscaya Kukabulkan doanya. Adakah hambaKu yang meminta padaKu? Niscaya Kuberikan pintanya. Adakah hambaKu yang memohon ampun padaKu? Niscaya Kuampuni dia.”[1]

Pintalah apa saja, taubati semua dosa, dan panjatkan doa. Dia Yang berjanji memberi, Dia Yg berjanji mengampuni dan Dia pula Yang berjanji mengijabahi. Dengan tahajjudmu, janji untuk sepertiga malam terakhirmu.

Al-Muzammil, diturunkan. Ada petunjuk padanya. Nabi akan menerima titah yang berat berupa wahyu Allah; sarat dengan amanah dan tanggungjawab, serta konsekwensi berdakwah. Maka Nabi diperintahkan untuk bangun di malam hari; tak semuanya, hanya separuh atau sebagian malam. Untuk apa? Berdiri sholat, bersembah sujud dan mendarus Qur`an. Allah sebutkan waktu malam itu, lebih mengena. Mengapa? Di siang hari, banyak hajat yang harus ditunaikan. Banyak suara yg memenuhi dunia. Sedangkan malam, hening dan sunyi. Sholatmu tak terusik hajat, bacaan ayat sucimu akan lebih mengena.

Seperti itulah Allah menunjuki Nabi untuk mempersiapkan diri atas tugas-tugas berat. Mari, pangkas sedikit jam tidur. Pintalah kekuatan pada Allah dengan janji sepertiga malam-Nya, untuk menghadapi esokmu.

Ref :

  1. Muwaththa’ Imam Malik (1/214)
  2. Tafsirul Qur`anil Kariim (Syaikh Muhammad Ali Thaha Ad-Durroh)
  3. At-Tafsirul Munir (Dr. Wahbah Az-Zuhaili)
  4. Link foto https://pesantrennuris.net/wp-content/uploads/2019/03/GAMBAR-SHOLAAT-TAHAJUD2.jpg

[1] HR Bukhori (1094) dan Muslim (758)