oleh : Ust. Erwan Raihan
Pergantian tahun, baik masehi maupun hijriyah, bukan termasuk hari raya dalam Islam. Hari raya dalam Islam hanyalah Idul Fithri dan Idul Adhha. Lebih dari itu, merayakan tahun baru adalah mengikuti kelakuan kebanyakan orang di muka bumi, padahal itu hanya akan menyesatkan orang dari jalan Allah. Allah berkalam:
وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ [1]
“Dan jika kamu menaati sebagian besar orang di bumi maka mereka akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka. Tidaklah mereka kecuali berdusta.”
Berbuat menyerupai suatu kaum menjadikan pelakunya bagian dari mereka, termasuk dari kalangan mereka. Silakan menyimak hadits berikut ini:
عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ» [2]
Dari Ibnu Umar, dia berkata, “Rasulullah sas. bersabda, “Barang siapa menyerupai suatu kaum maka dia adalah bagian dari mereka.”
Keterangan :
- Hadits ini asalnya berkenaan dengan keserupaan dalam berpakaian.
- Pengertian hadits ini mencakup semua kelakuan yang mirip atau serupa atau sama dengan kelakuan orang-orang fasik, orang durhaka, dan orang-orang sesat lainnya.
- Orang yang berperilaku seperti orang buruk termasuk orang buruk.
- Merayakan tahun baru adalah perilaku orang buruk atau setidaknya bukan merupakan perilaku orang baik (pada asalnya), sehingga merayakan tahun baru juga harus dihindari dan ditinggalkan oleh muslimin.
- Sebaliknya, menjalankan perilaku orang-orang shalih menjadikan pelakunya bagian dari mereka, bila dilakukan dengan niat lillahi ta’ala.
Lalu, apa yang seharusnya dilakukan oleh muslimin ketika terjadi pergantian tahun. Tidak ada apa-apa. Beramal seperti biasa. Berkegiatan rutin sebagaimana hari-hari yang lainnya. Beramal sholeh seperti hari-hari sebelumnya dan hari-hari sesudahnya.
Bagaimana dengan muhasabah atau introspeksi atau mawas diri? Baik dilakukan. Walau tidak harus menepati pergantian tahun. Kapan saja muhasabah itu baik, karena bermanfaat untuk memperbaiki diri.
Allah berkalam
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kalian kepada Allah dan hendaklah setiap diri memerhatikan apa yang sudah dia lakukan untuk hari esoknya (akhirat). Bertakwalah kalian kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahawaspada terhadap apa yang kalian kerjakan.” (S. al-Hasyr [59] : 18)
Keterangan :
- Setiap muslim harus melakukan muhasabah (mawas diri) apa yang sudah dia amalkan untuk akhiratnya.
- Karena Allah Mahawaspada, mengetahui segalanya, maka muslim senantiasa berhati-hati dalam bersikap dan bertindak.
Kita perlu menyimak hadits berikut ini :
أَنَّ عَائِشَةَ، زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كَانَتْ لاَ تَسْمَعُ شَيْئًا لاَ تَعْرِفُهُ، إِلَّا رَاجَعَتْ فِيهِ حَتَّى تَعْرِفَهُ، وَأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنْ حُوسِبَ عُذِّبَ» قَالَتْ عَائِشَةُ: فَقُلْتُ أَوَلَيْسَ يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: {فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا} [الانشقاق: 8] قَالَتْ: فَقَالَ: ” إِنَّمَا ذَلِكِ العَرْضُ، وَلَكِنْ: مَنْ نُوقِشَ الحِسَابَ يَهْلِكْ ” [3]
Bahwasanya Aisyah, istri Nabi sas. itu tidak mendengar sesuatu yang dia tidak memahaminya kecuali dia mengulanginya (muraja’ah) sampai dia memahaminya, serta bahwa Nabi sas. bersabda, “Siapa yang dihisab pasti disiksa”. Aisyah berkata, “Bukankah Allah l berkalam : “Maka kelak dia akan dihisab dengan hisab yang ringan” (al-Insyiqaq ayat 8). Aisyah berkata, “Nabi bersabda, “Itu hanyalah dihadapkannya manusia ke timbangan amal. Akan tetapi siapa saja yang didebat dalam hisab maka dia pasti binasa.”
Keterangan :
- Seorang murid penuntut ilmu yang baik adalah berusaha memahami pelajaran sampai paham dengan pemahaman yang benar.
- Murid yang baik memerhatikan setiap pelajaran dari gurunya.
- Orang yang dihisab (dilakukan muhasabah) secara teliti di akhirat adalah orang yang binasa dan pasti disiksa, karena orang tidak akan lepas dari dosa dan kesalahan sepenuhnya.
- Orang yang beriman mendapatkan hisab yang mudah, artinya dilonggarkan muhasabahnya di akhirat.
عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «الكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ المَوْتِ، وَالعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ» [4]
Dari Syaddad bin Aus, dari Nabi sas., beliau bersabda, “Orang yang cerdik adalah orang yang melakukan introspeksi dirinya dan beramal untuk sesuatu sesudah matinya. Orang yang lemah tak berdaya adalah orang yang memperturutkan nafsu dirinya dan berangan-angan kepada Allah.”
Keterangan :
- Orang yang bermuhasabah dan beramal untuk hidup sesudah mati adalah orang yang cerdik dan cerdas.
- Orang yang memperturutkan hawa nafsu dan mengangan-angankan bahwa Allah akan mengampuninya adalah orang yang lemah.
عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ، أَنَّهُ قَالَ فِي خُطْبَتِهِ: «حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا وَزِنُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُوزَنُوا وَتَزَيَّنُوا لِلْعَرْضِ الْأَكْبَرِ , يَوْمَ تُعْرَضُونَ لَا تَخْفَى مِنْكُمْ خَافِيَةٌ» [5]
Dari Umar bin Khaththab, bahwasanya dia berkata dalam khotbahnya, “Lakukan muhasabah terhadap diri kalian sebelum kalian dihisab. Timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang. Hiasilah diri kalian menghadapi pertemuan yang besar. “Pada hari yang kalian dihadapkan, tiada satu pun tersembunyi dari kalian.”
Keterangan :
- Melakukan muhasabah dianjurkan, sebelum dihisab di akhirat.
- Menimbang amalan diri sendiri penting sebelum amalannya ditimbang di akhirat.
- Menghiasi diri sebelum bertemu Allah adalah dengan beramal shaleh sebanyak-banyaknya.
- Amal shaleh adalah amalan yang mendekatkan pelakunya kepada Allah. Dilakukan berdasarkan sunnah Nabi dan niat lillahi ta’ala.
Ulama berkata,
مَنْ كَانَ يَوْمُهُ كَأَمْسِهِ فَهُوَ مَغْبُوْنٌ، وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ أَحْسَنُ مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ غَيْرُ مَغْبُوْنٍ، وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ أَحْسَنُ مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ رَابِحٌ، وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ أَسْوَأُ مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ خُسْرَانٌ [6]
“Barang siapa yang harinya ini seperti hari kemarinnya maka dia adalah orang yang tertipu. Barang siapa yang harinya ini lebih baik daripada hari kemarinnya maka dia bukanlah orang yang tertipu. Barang siapa yang harinya ini lebih baik daripada hari kemarinnya maka dia adalah orang yang beruntung. Barang siapa yang harinya ini lebih buruk daripada hari kemarinnya maka dia adalah orang yang merugi.”
[1] Surah al-An’am, ayat 116.
[2] Sunan Abu Dawud, k. al-Libas, h. 4031, al-Albani menyatakan hadits ini hasan shahih.
[3] Shahih al-Bukhari, k. al-‘Ilm, h. 103 __ Shahih Muslim, k. al-Jannah wa Shifatu Na’imiha wa Ahliha, h. 2876.
[4] Musnad Ahmad, h. 17423 __ Sunan at-Tirmidzi, h. 2459 __ Sunan Ibnu Majah, h. 4260 __ Mustadrak ‘alash Shahihain lil Hakim h. 191, menurut at-Tirmidzi hadits ini hasan, menurut al-Albani dan al-Arnauth hadits ini dhaif. Al-Hakim menyatakan hadits ini shahih berdasarkan syarat al-Bukhari. Al-Utsaimin mengatakan bahwa hadits ini maknanya shahih tanpa keraguan, walaupun sanadnya bermasalah (dhaif).
[5] Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, h. 34459 __ Az-Zuhd li Ahmad bin Hanbal, h. 33.
[6] Mawarid azh-Zham`an li Durus az-Zaman, Abdul Aziz as-Salman, lih. jg. Ihya` ‘Ulumiddin al-Ghazali dan Qut al-Qulub Abu Thalib al-Makki, Shifwah ash-Shafwah Ibnul Jauzi.
