Lezatnya Ibadah

Betulkah Ibadah itu nikmat ?

Apakah ini hanya sekedar janji tanpa bukti ?

Ataukah sekedar slogan untuk menumbuhkan sugesti ?

Ataukah nikmat yang baru bisa kita rasakan di akhirat setelah menunggu sekian lama ?

Ataukah …….. ???

Untuk mengetahui jawabanya, kita perhatikan dalil-dalil berikut ini:

Ayat pertama:

مَنْ عَمِلَ صَالِحاً مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ

Barangsiapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sungguh akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik (di dunia), dan sungguh akan Kami berikan balasan kepada mereka (di akhirat) dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan  (An Nahl:97).

Apa yang dimaksud dengan Hayatan Thoyyibah (kehidupan yang baik) ini ?

Kebanyakan mufassir menerangkan bahwa Hayatan Thoyyibah ini adalah balasan di dunia, bukan di akhirat. Karena untuk balasan di akhirat disebutkan tersendiri sesudahnya.

Tafsir Ibnu katsir:

“Hayatan Thoyyibah meliputi ketentraman & kenyamanan dari berbagai sisi.”

Tafsir As Sa’diy:

“(Hayatan Thoyyibah): kedamaian hati, ketenangan jiwa, tidak menoleh kepada sesuatu yang mengacaukan hati, dan diberi rizqi oleh Allah dari arah yang tidak disangka.”

Tafsir Fathul Qodir:

“(Hayatan Thoyyibah): Kecocokan pada ketaatan, manisnya ketaatan, kebahagiaan, kehidupan surga.

Ayat kedua:

{42}وَالَّذِينَ هَاجَرُواْ فِي اللّهِ مِن بَعْدِ مَا ظُلِمُواْ لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَلَأَجْرُ الآخِرَةِ أَكْبَرُ لَوْ كَانُواْ يَعْلَمُونَ {41} الَّذِينَ صَبَرُواْ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Dan orang-orang yang berhijrahkarena Allah sesudah mereka dianiaya, sungguh benar-benar Kami akan berikan kepada mereka (balasan) kebaikan di dunia.Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui. (yaitu) orang-orang yang sabar dan hanya kepada Rabb saja mereka bertawakkal” (An Nahl:41-42).

Ayat ketiga:

وَأَنِ اسْتَغْفِرُواْ رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُواْ إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُم مَّتَاعاً حَسَناً إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ وَإِن تَوَلَّوْاْ فَإِنِّيَ أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ

“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Rabbmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik kepadamu (di dunia) sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya (di akhirat nanti)” (Huud:3).

Ayat keempat:

قُلْ يَا عِبَادِ الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Katakanlah: Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertaqwalah kepada Rabbmu.Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas.Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahala bagi mereka dengan tanpa batas (di akhirat)” (Az Zumar:10).

Dalam mengomentari keempat ayat di atas, Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyyah berkata:

“Dalam keempat ayat ini Allah menyebutkan bahwa Dia akan memberikan balasan kebaikan bagi orang yang berbuat kebaikan dengan dua balasan: balasan (kebaikan) di dunia dan balasan (kebaikan) di akhirat .”

Agama Islam ini Allah turunkan kepada manusia sebagai sumber kebahagian hidup yang hakiki dan ketenangan lahir dan batin bagi orang-orang yang memahami dan mengamalkannya dengan baik dan benar.

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَاناً لِّكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ

“Dan Kami turunkan kepadamu kitab ini (AlQuran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserahdiri” (An Nahl:89)

Allah tidak menjadikan agama Islam ini sebagai beban yang memberatkan dan menyulitkan manusia.

يُرِيدُ اللّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesulitan bagimu”(Al Baqarah:185).

مَا يُرِيدُ اللّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُم مِّنْ حَرَجٍ

“Allah tidak menghendaki untuk menjadikan kesempitan bagi kamu” (Al Maaidah:6).

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ

“Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan bagi kamu dalam agama ini suatu kesempitan”(Al Hajj:78).

Dalam beberapa hadits shahih, Rasulullah SAW telah mengabarkan akan tentang manisnya iman yang menjadikan ibadah terasa nikmat.

ثلاث من كن فيه وجد بهن حلاوة الإيمان …..

“Ada tiga sifat, barang siapa yang memilikinya, maka dia akan merasakan manisnya iman…..”

ذاق طعم الإيمان من رضي بالله ربا وبالإسلام دينا وبمحمد رسولا

“Akan merasakan kelezatan iman, orang yang ridha Allah sebagai Rabbnya dan Islam sebagai agamanya serta Muhammad sebagai rasulnya”

Imam An Nawawi berkata ketika menjelaskan hadits di atas:

“Orang yang tidak menghendaki selain (ridha) Allah, tidak menempuh selain jalan agama Islam & tidak melakukan ibadah kecuali dengan apa yang sesuai dengan syariat (yang dibawa oleh Rasulullah), maka tidak diragukan lagi bahwa yang memiliki sifat ini niscaya kemanisan iman akan masuk ke dalam hatinya, sehingga ia bisa merasakan kemanisan dan kelezatan iman tersebut”

Yang telah merasakan nikmatnya ibadah : Rasulullah SAW

Beliau menggambarkan ibadah shalat sebagai sumber kesejukan dan kesenangan hati dalam sabda beliau:

وجعلت قرة عيني في الصلاة

“Dan dijadikan qurratul ‘ain bagiku pada (waktu aku melaksanakan) shalat”

Makna qurratul ‘ain adalah sesuatu yang menyejukkan dan menyenangkan hati .

Dalam hadits lain Rasulullah bersabda kepada Bilal:

يَا بِلا أَرِحْنَا بِالصَّلاةِ

“Wahai Bilal, senangkanlah (hati) kami dengan (melaksanakan) shalat”.

Yang juga telah merasakan nikmatnya ibadah : Para Shahabat

Allah Ta’ala mengabarkan kondisi para Shahabat yang telah memiliki rasa senang untuk beribadah :

وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْأِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ

“Tetapi Allah menjadikan kamu sekalian (wahai para sahabat) cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan.Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus”(Al Hujuraat:7).

Dalam riwayat Al Bukhari tentang kisah dialog antara Abu Sufyan dan raja Romawi Hiraqla, di antara pertanyaan yang diajukan oleh Hiraqla kepada Abu Sufyan: “Apakah ada diantara pengikut (sahabat) Nabi itu (Nabi Muhammad) yang meninggalkan agamanya karena dia membenci agama tersebut setelah dia memeluknya?”
Maka Abu Sufyan menjawab: “Tidak ada.”

Kemudian Hiraqla berkata: “Memang demikian (keadaan) iman ketika kemanisan iman itu telah masuk dan menyatu dalam hati manusia.”

Yang juga telah merasakan nikmatnya ibadah : Para Ulama & orang sholih dahulu

Atsar dari para ulama ahlus sunnah yang menunjukkan hal ini banyak sekali, di antaranya sebuah atsar yang sering dinukil oleh Imam Ibnul Qayyim dalam beberapa kitab beliau, seperti “Miftahu daaris sa’aadah”, “Al Waabilush shoyyib” dan “Ad Daa-u wad dawaa'”, yaitu ucapan salah seorang ulama:

“Seandainya para raja dan pangeran mengetahui (kenikmatan hidup) yang kami rasakan (karena memahami dan mengamalkan agama Allah), niscaya mereka akan berusaha merebut kenikmatan tersebut dari kami dengan pedang-pedang mereka”

Sampai di sini kita sudah memahami bahwa nikmatnya ibadah bukan sekedar teori, bukan pula janji tanpa bukti, tapi benar-benar merupakan kenyataan hakiki yang bisa dirasakan tidak hanya di akhirat, tetapi juga sudah bisa dicicipi di dunia.

Ini merupakan balasan kebaikan yang Allah segerakan di dunia bagi hamba-hambaNya yang beriman dan beramal shalih, sebelum nantinya di akhirat akan mendapatkan balasan yang jauh lebih baik dan sempurna.

Lalu, bagaimana dengan kita ?

Alhamdulillah jika kita sudah bisa merasakan nikmatnya ibadah. Ini adalah karunia yang besar dari Allah Ta’ala.
Namun jika kita belum bisa merasakan nikmatnya ibadah atau manisnya iman, maka pasti ada sesuatu yang perlu dikoreksi pada diri kita sendiri, bukan pada ibadahnya.

Untuk mengetahui permasalahannya, kita perhatikanapa yang dikatakan oleh Al Hafidz Ibnu Rajab:

Iman memiliki rasa manis yang bisa dirasakan oleh hati, sebagaimana mulut merasakan manisnya makanan dan minuman. Iman adalah gizi untuk hati dan sumber kekuatannya, sebagaimana makanan dan minuman merupakan gizi bagi badan dan sumber kekuatannya.

Badan tidak bisa merasakan nikmatnya makanan dan minuman ketika sakit. Bahkan terkadang badan yang sakit hanya bisa merasakan nikmat ketika mendapatkan makanan dan minuman yang justru membahayakannya.
Demikian juga hati, dia akan merasakan kenikmatan ibadah apabila terbebas dari berbagai penyakit hati. Ketika hati terserang penyakit, dia justru akan merasakan kenikmatan ketika mengerjakan perkara-perkara yang membinasakan berupa kemaksiyatan.

Kalau kita sakit sehingga tidak bisa merasakan nikmatnya makanan yang enak, maka yang harus kita perbaiki adalah kondisi fisik kita, bukan makanan tersebut.

Demikian pula kalau kita belum bisa merasakan nikmatnya ibadah, padahal nikmatnya ibadah itu adalah janji dari Allah yang telah dibuktikan atau dirasakan oleh para pendahulu kita, maka yang harus kita perbaiki adalah kondisi iman kita atau kondisi hati kita, bukan mempermasalahkan ibadahnya atau meragukan janji dari Allah. Oleh karena itu yang harus dilakukannya adalah berusaha keras dan berjuang untuk menyembuhkan dan menghilangkan penyakit tersebut, dengan cara memaksa diri untuk melakukan terapi untuk mengobati penyakit hati tersebut.

Penyakit yang ada di hati kitalah yang menjadi penghalang untuk merasakan nikmatnya ibadah.
Bagaimana cara menghilangkan penyakit hati tersebut ?

Para Ulama telah menjelaskan cara menyembuhkan penyakit hati yang disimpulkan dengan proses berikut ini :

  1. Hifzhulquwwah (memelihara kekuatan dan kondisi hati)
    yaitu dengan memperbanyak melakukan ibadah dan amal shaleh untuk meningkatkan keimanan, seperti mambaca Al Qur-an dengan menghayati kandungan maknanya, berdzikir, mempelajari ilmu agama yang bermanfaat, utamanya ilmu tauhid, dll.
  2. Al Himyatu ‘anilmu’dzi (menjaga hati dari penyakit-penyakit lain)
    yaitu dengan cara menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan dosa, maksiat dan penyimpangan-penyimpangan syariat lainnya, karena perbuatan-perbuatan tersebut akan semakin memperparah dan menambah penyakit hati.
  3. Istifragul mawaaddil faasidah (menghilangkan/membersihkan bekas-bekas jelek/noda-noda hitam dalam hati yang merusak, sebagai akibat dari perbuatan dosa dan maksiat yang pernah dilakukan)
    Yaitu dengan cara beristigfar (memintaampunan) dan bertaubat dengan taubat yang nashuha (ikhlas dan bersungguh-sungguh) kepada Allah Ta’ala.

Selama proses penyembuhan penyakit hati ini, kita membutuhkan kesungguhan dan usaha keras untuk menundukkan dan memaksa hawa nafsu agar bisa melaksanakan cara-cara penyembuhan di atas. Kita harus mau merasakan kesusahan & kepahitan.

Hal ini sebagaimana orang yang sakit fisiknya, dia harus berusaha dan memaksa dirinya untuk meminum obat yang rasanya pahit dan getir secara teratur, dan mengkonsumsi makanan yang bergizi untuk menjaga kondisinya, meskipun makanan tersebut terasa pahit di lidahnya atau mungkin susah ditelan. Selain itu, juga dengan mengeluarkan racun dari tubuhnya melalui proses detoksifikasi yang sesuai.

Proses inilah yang diisyaratkan dalam sabda Rasulullah SAW:

حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ

“Surga itu dikelilingi (dilingkupi) dengan perkara-perkara yang susah dan tidak disenangi (oleh nafsu manusia), sedangkan neraka itu dikelilingi dengan perkara-perkara yang disenangi (oleh nafsu syahwat manusia)” (HR. Muslim).

Yang perlu diingat dan dicamkan di sini, bahwa rasa berat dan kesusahan ini hanyalah dirasakan diawal/permulaan menempuh jalan mencapai ridha Allah Ta’ala, yaitu selama proses penyembuhan dan pengobatan penyakit hati berlangsung, karena hal ini memang Allah jadikan untuk menguji kesungguhan dan kesabaran seorang hamba dalam berjuang menundukkan hawa nafsunya di jalan-Nya, yang kemudian setelah Allah mengetahui kesungguhan dan kesabaran hamba tersebut, barulah Allah memberikan taufik dan hidayahnya kepada hamba tersebut, dengan menghilangkan penyakit hatinya dan menganugerahkan kesempurnaan dan kemanisan iman kepadanya.

Allah berfirman:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang berjuang dengan sungguh-sungguh (dalam menundukkan hawa nafsu) untuk (mencari keridhaan) Kami, maka benar-benar akan Kami berikan hidayah kepada mereka (dalam menempuh) jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benarbeserta orang-orang yang berbuatbaik” (Al ‘Ankabuut:69).

Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyyah ketika mengomentari ayat di atas berkata:

“(Dalam ayat ini) Allah menggandengkan hidayah (dari-Nya) dengan perjuangan dan kesungguhan (manusia), maka orang yang paling sempurna (mendapatkan) hidayah (dari Allah) adalah orang yang paling besar perjuangan dan kesungguhannya” .

Imam Ibnul Qayyim ketika menjelaskan proses pencapaian kebahagian yang hakiki dan kemanisan iman yang diawali dengan kesusahan dan kepahitan, berkata:

“…Kebahagian (dan kemanisan iman) ini, meskipun pada mulanya tidak lepas dari berbagai macam kesusahan, penderitaan dan perkara-perkara yang tidak disenangi, (tapi pada akhirnya nanti) akan membawanya kepada taman-taman yang indah, tempat yang penuh kebahagiaan dan kedudukan yang mulia…” .

Beliau juga berkata:

“Kalaulah bukan karena kejahilan (ketidaktahuan) mayoritas manusia akan kemanisan dan kelezatan iman, serta agungnya kedudukan ini, maka pasti mereka akan saling perang memperebutkan hal tersebut dengan pedang-pedang mereka, akan tetapi (memang Allah) menutupi kemanisan iman tersebut dengan perkara-perkara yang tidak disukai oleh nafsu manusia, sebagaimana mayoritas manusia juga dihalangi (untuk merasakan kemanisan iman tersebut) dengan hijab kejahilan, dengan tujuan agar Allah memilih dan mengkhususkan siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya untuk mencapai kedudukan ini dan merasakan kemanisan iman, dan Allah maha memiliki karunia yang agung” .

Maka untuk mengawali usaha kita dalam meraih nikmatnya ibadah ini adalah dengan memperkaya diri kita dengan ilmu agama.

Dalam sebuah atsar yang shahih dari sahabat Rasulullah yang mulia, ‘Ali bin Abi Thalib, ketika beliau menjelaskan keutamaan orang yang berilmu dan fungsi ilmu tersebut dalam membawa mereka meraih kesempurnaan dan kemanisan iman, beliau berkata:

“… ilmu itu membawa mereka (dengan tanpa mereka sadari) untuk merasakan hakikat (kesempurnaan dan kemanisan) iman, sehingga mereka merasakan ringan dan mudah (melaksanakan ibadah dan pendekatan diri kepada Allah) yang semua ini dirasakan berat oleh orang-orang yang melampaui batas. Bahkan mereka merasa senang dan suka (melakukan amalan-amalan shaleh dan ketaatan kepada Allah) yang semua ini tidak disukai oleh orang-orang yang jahil…”.