Hujan deras yang mengguyur ba’da Ashar sore itu membuat banyak orang tidak beranjak dari serambi masjid. Begitu pula dengan pak Ferry, setelah bekerja seharian dia menunggu redanya hujan sambil melepas penat. Tak sengaja pandangannya membentur papan nama masjid itu, Masjid “Istiqomah”. Sebuah nama singkat yang mengandung makna amat dalam.
Ingatannya menerawang masa lalu hingga sampai kini yang telah bekerja dan telah berkeluarga pula. Dahulu di masa mudanya dia gigih menjalankan aktifitas dien hingga tak kenal waktu istirahat, kalau tidak sakit teruslah aktifitas dia jalani. Semangatnya sangatlah tinggi dalam melakukan amalan yang dianjurkan Rasulullah saw, bergaul pun dia pasti pilih-pilih. Ahli ibadah dia dekati, didekati ahli maksiyat dia pasti menjauh.
Pak Ferry ingat betul sabda Rasulullah untuk senantiasa menjaga satu amalan terus-menerus atau istiqomah, sehingga apabila ada udzur tidak dapat melakukan satu amalan tersebut maka dia tetap terhitung beramal. Dan dia juga tahu betul bahwa amalan yang dicintai Alloh ‘Azza wa Jalla adalah istiqomahnya meskipun amalan tersebut kecil.
Oleh karena itu dia selalu beramal tanpa peduli perkataan manusia, itu sebabnya pula dia memilih bergaul dengan ikhwan yang aktif di masjid maupun majelis-majelis ta’lim. Kegiatannya pun beragam, menghadiri majelis ta’lim, mengajar TPA, dakwah ke desa-desa, bahkan ada jam ta’lim tertentu yang dia ikuti tiap hari. Tanpa kenal lelah dan hebatnya selalu istiqomah.
Semua bisa berjalan karena mendapat kekuatan dari Alloh SWT, dan dia belum berumahtangga. Dan dia belum begitu dituntut nafkah keluarga.
Seiring berjalannya waktu, sampailah saat dia harus berumahtangga sekaligus bekerja. Alhamdulillah ‘ala kulli hal, kedua-duanya dia dapatkan dalam waktu yang hampir bersamaan. Ternyata cobaan untuk tetap berada di rel yang diridloi Alloh Ta’ala tak mudah. Berbagai godaan yang berasal dari dalam dirinya, orang-orang di kanan kirinya dan keinginan untuk selalu istiqomah di jalanNya saling tarik-menarik, godaan dunia pun juga mulai menggoyang iman dan aqidahnya.
Pekerjaan dengan gaji yang mentereng bisa dipastikan akan mendongkrak status sosialnya, gadis idaman pasti akan bertekuk lutut dengan statusnya. Calon mertua mana yang tak akan “lumer” kegigihan mempertahankan anak gadisnya untuk dipersunting seorang pria denga jabatan dan gaji yang bikin orang berdecak kagum. Akan tetapi tentu saja Ferry muda harus menggadaikan aqidahnya. Untuk jabatan mentereng yang akan dia raih, suap menyuap atau riswah adalah santapan wajibnya. Belum lagi godaan lingkungan kerja yang jauh dari atmosfer dien. Akhirnya dia memilih menghindar dari resiko itu semua dan dengan pertolongan Alloh semata dia mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang bisa dikatakan cukup (sekedar untuk tidak mengatakan pas-pasan) untuk mendaki “lereng” kehidupan yang semakin menanjak.
Dalam memilih pasangan hidup pun Ferry berhasil menepis desakan keluarga besarnya yang memintanya untuk mencari istri yang “pada umumnya” bukan yang “eksklusif” atau “kumuh”, “ninja” dan lain sebagainya. Sekali lagi, berkat pertolongan Alloh semata dia berhasil untuk mempertahankan dirinya supaya berada pada “rel” dien yang lurus. Akhirnya akhwat yang sholehah lah yang menjadi ibu dari anak-anaknya sekarang.
Walimatul ‘ursy, dari perencanaan acara hingga menjelaa ng pelaksanaannya benar-benar menguras stamina. Seakan-akan dia berada di medan laga untuk berhadapan dengan keluarga besarnya. Yang meskipun Islam, namun memegang pedoman “wong jowo ojo nganti ilang jowone” (orang jawa jangan sampai hilang kejawaannya)
Tetapi namanya istiqomah, ternyata berat, Laa haula wa laa quwwata illaa billaah…..
By Prabu NU
