Isme-Isme Modern

Uni soviet kala itu bersama Lenin dan Stalin. Dua pelopor paham marxisme yang menghantarkan negara tersebut mendapat julukan negara beruang putih dengan pasukan merahnya yang tersohor. Meski tangan besi pemerintahan diktator menjadi sistemnya, negara tersebut terus berkembang dan memuncak (1918 M). Namun, kemilau negara itu harus dibayar dengan harga yang tak murah. Hal itu terjadi saat belum genap separo abad negara komunis ini berdiri, belasan negara bagiannya menginginkan untuk berpisah dari kesatuan uni soviet. Dan terpecahlah negara benua itu menjadi belasan negara independent.

Dulu Uni Soviet sekarang Rusia. Dan taukah kamu tentang Rusia? Negara yang ras wanitanya memiliki bentuk fisik sempurna, kata Kang Abik. Dia melanjutkan, ia adalah negara dengan persentse ‘PKS’nya tertinggi di dunia !? Moral individu bukan lagi sebuah gagasan yang urgent. Ya. Inilah negara komunis pertama di dunia. Pun Karl Mark, sang bapak komunis negeri itu akhirnya harus menenggak racun yang kemudian menghantarkannya ke dalam neraka selama lamanya setelah ‘berhasil’ melarismaniskan pahamnya yang kelak lebih terkenal dengan komunisme ketimbang marxisme.

Lain komunisme lain kapitalisme. Karena, kalau boleh dimasukkan dalam istilah Indonesia, bahkan kapitalisme adalah antonim dari komunisme. Meski sering kita dengar jika ada pembahasan komunisme, pasti dibahas juga tentang kapitalisme, seolah kedengarannya sama. Berhubung tema wacana kita kali ini adalah isme, mari kita kaitkan.

Nah, ini hanyalah sebuah openiorita bercover ‘Isme’ dengan mengambil contoh dari komunisme. Sebab, komunisme sedang booming sekarang ini. Isme adalah sebuah afiks yang bertipe sufiks. Apabila ia berkombinasi dengan sebuah nomina, maka ia akan menghasilkan nomina pula yang seringkali bersifat ‘kekirian’.

Kita flashback sebentar, seiring dengan menjamurnya paham sekulerisme setelah revolusi industri dan diawali oleh revolusi Perancis yang dipimpin oleh Voltire pada abad pertengahan maka demokratisme, pluralisme, lebralisme, komunisme, kapitalisme, modernisme, hedonisme, dan seabreg isme-isme lainnya semakin leluasa tumbuh subur di tubuh sebuah negara yang menerapkannya. Karena jika sebuah negara sudah bersistem sekular, kebebasan berpikir dan berekspresi tanpa batas adalah hak mutlak individu. Nah, dari sinilah isme-isme itu bermula.

Semula, pemerintahan sekuler (paham sekulerisme) diterapkan di bumi Eropa pada abad pertengahan karena ketidakpuasan masyarakat terhadap gereja yang terlalu membatasi ruang lingkup gerak masyarakat. Segala pergerakan atau pendapat yang berbeda dengan pendapat gereja, harus segera ditumpas. Tak heran pada masa itu banyak ilmuan dan intelek kompeten hangus dibakar dan habis dicincang oleh gereja. Misalnya saja seperti Galileo dan Hegal. Para pemikir dan tokoh masyarakat kala itu seperti Voltire (Perancis) dan pelanjut estafetnya, King Marthin Luther (Inggris) berpendapat bahwa jika hal ini dibiarkan terjadi maka perkembangan umat manusia akan terhambat dan kemudian disetujuilah keputusan revolusi besar-besaran. Itu dimulai dengan gagasan bahwa agama (pendapat uskub dan pendeta (gereja), pen) harus dipisahkan dari pemerintahan. Maka, lahirlah sekularisme pada pertengahan abad ke 17 itu. Gerejapun dibakar massa dan pendeta bahkan tidak memiliki otoritas sama sekali dalam mencampuri urusan masyarakat (rakyat).

Berbeda dengan negara berasaskan syariat Islam di era Khulafa arba’ah dan dinasti-dinasti penerus. Tak ada isme-isme yang menggandoli pergerakannya. Dalam Islam, bab kenegaraan memang dipisahkan dari bahasan fiqih (ibadah), dan muammalah. Namun tidak dipisahkan dari lingkup syari’at. Dan syari’at telah mutlak apabila telah berkomponen aqidah (keyakinan), syari’atnya syari’at (bahasan mendalamnya: fiqih ibadah, pen) dan etika (moral/akhlaq). Sehingga kenegaraan tak pernah luput dari bimbingan syari’at, bukan akal atau rasio belaka yang diterapkan. Hasilnya, tujuh abad melahirkan sebuah negara adidaya dan bahkan tak tertandingi dalam hal ilmu pengetahuan, kesenian, dan renaissens (peradaban). Terbukti, Islam dapat mengayomi negara dan kristen pada abad kedelapan (sebelum abad renaissens) tak bisa bahkan kewalahan. Kemudian malah menciptakan paham sekulerisme, alias paham anyel agama.

Oleh karena itu, mengutip kata Adian Husaini:

Sekulerisme adalah ibu kandung dari demokrasi dan pluralisme.

Maka, dan kalaulah boleh, saya lanjutkan dengan jika sekulerisme dibiarkan hidup dan bernafas maka ia akan terus melahirkan isme-isme lainnya yang bahkan lebih mengkhawatirkan dan menyebabkan pemikiran nyleweng akut.
Walhasil, dalam mensikapi isme-isme yang tumbuh di zaman moderen pasca runtuhnya abad industri dengan melenium informasi yang menggantikannya ini, kita harus menjadi seorang pemuda Islam yang sarat akan ilmu syari’at dan dilengkapi dengan pengetahuan ilmu masa kini. Karena kelak jika kita istiqomah dengan semuanya ini, langkah zionis yang tertampung dalam wadah gerakan zionisme akan dapat segera kita jegal. Terlebih, zionisme inilah payung yang konon menaungi segala bentuk isme. Dengan kata lain, ibu dari ibu kandung semua isme itu hakikatnya adalah zionis tersebut. Maka, semangat dan keistiqamahan adalah landasan utama kita untuk mulai melangkah. Dengan begitu, perlahan tapi pasti pemerintahan Islam yang kita dambakan pun sesegera mungkin kita biarkan.

Allohu Akbar!

Oleh:
Nur Qomar