<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Al Abrar Contributor &#8211; Pusdiklat Al Abrar Surakarta</title>
	<atom:link href="https://alabrar.or.id/author/contributor/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://alabrar.or.id</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Fri, 14 Apr 2017 22:54:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.8.5</generator>

<image>
	<url>https://alabrar.or.id/wp-content/uploads/2023/09/cropped-cropped-Salinan-dari-Pusdiklat-Al-Abrar-2-32x32.png</url>
	<title>Al Abrar Contributor &#8211; Pusdiklat Al Abrar Surakarta</title>
	<link>https://alabrar.or.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Istiqomah ah.. Berat</title>
		<link>https://alabrar.or.id/istiqomah-ah-berat.html</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Al Abrar Contributor]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 14 Apr 2017 22:53:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://alabrar.or.id/?p=270</guid>

					<description><![CDATA[Hujan deras yang mengguyur ba’da Ashar sore itu membuat banyak orang tidak beranjak dari serambi masjid. Begitu pula dengan pak Ferry, setelah bekerja seharian dia <a class="mh-excerpt-more" href="https://alabrar.or.id/istiqomah-ah-berat.html" title="Istiqomah ah.. Berat">(Selengkapnya... )</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Hujan deras yang mengguyur ba’da Ashar sore itu membuat banyak orang tidak beranjak dari serambi masjid. Begitu pula dengan pak Ferry, setelah bekerja seharian dia menunggu redanya hujan sambil melepas penat. Tak sengaja pandangannya membentur papan nama masjid itu, Masjid “Istiqomah”. Sebuah nama singkat yang mengandung makna amat dalam.</p>
<p>Ingatannya menerawang masa lalu hingga sampai kini yang telah bekerja dan telah berkeluarga pula. Dahulu di masa mudanya dia gigih menjalankan aktifitas dien hingga tak kenal waktu istirahat, kalau tidak sakit teruslah aktifitas dia jalani. Semangatnya sangatlah tinggi dalam melakukan amalan yang dianjurkan Rasulullah saw, bergaul pun dia pasti pilih-pilih. Ahli ibadah dia dekati, didekati ahli maksiyat dia pasti menjauh.</p>
<p>Pak Ferry ingat betul sabda Rasulullah untuk senantiasa menjaga satu amalan terus-menerus atau istiqomah, sehingga apabila ada udzur tidak dapat melakukan satu amalan tersebut maka dia tetap terhitung beramal. Dan dia juga tahu betul bahwa amalan yang dicintai Alloh ‘Azza wa Jalla adalah istiqomahnya meskipun amalan tersebut kecil.</p>
<p>Oleh karena itu dia selalu beramal tanpa peduli perkataan manusia, itu sebabnya pula dia memilih bergaul dengan ikhwan yang aktif di masjid maupun majelis-majelis ta’lim. Kegiatannya pun beragam, menghadiri majelis ta’lim, mengajar TPA, dakwah ke desa-desa, bahkan ada jam ta’lim tertentu yang dia ikuti tiap hari. Tanpa kenal lelah dan hebatnya selalu istiqomah.</p>
<p>Semua bisa berjalan karena mendapat kekuatan dari Alloh SWT, dan dia belum berumahtangga. Dan dia belum begitu dituntut nafkah keluarga.</p>
<p>Seiring berjalannya waktu, sampailah saat dia harus berumahtangga sekaligus bekerja. Alhamdulillah ‘ala kulli hal, kedua-duanya dia dapatkan dalam waktu yang hampir bersamaan. Ternyata cobaan untuk tetap berada di rel yang diridloi Alloh Ta’ala tak mudah. Berbagai godaan yang berasal dari dalam dirinya, orang-orang di kanan kirinya dan keinginan untuk selalu istiqomah di jalanNya saling tarik-menarik, godaan dunia pun juga mulai menggoyang iman dan aqidahnya.</p>
<p>Pekerjaan dengan gaji yang mentereng bisa dipastikan akan mendongkrak status sosialnya, gadis idaman pasti akan bertekuk lutut dengan statusnya. Calon mertua mana yang tak akan “lumer” kegigihan mempertahankan anak gadisnya untuk dipersunting seorang pria denga jabatan dan gaji yang bikin orang berdecak kagum. Akan tetapi tentu saja Ferry muda harus menggadaikan aqidahnya. Untuk jabatan mentereng yang akan dia raih, suap menyuap atau riswah adalah santapan wajibnya. Belum lagi godaan lingkungan kerja yang jauh dari atmosfer dien. Akhirnya dia memilih menghindar dari resiko itu semua dan dengan pertolongan Alloh semata dia mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang bisa dikatakan cukup (sekedar untuk tidak mengatakan pas-pasan) untuk mendaki “lereng” kehidupan yang semakin menanjak.</p>
<p>Dalam memilih pasangan hidup pun Ferry  berhasil menepis desakan keluarga besarnya yang memintanya untuk mencari istri yang “pada umumnya” bukan yang “eksklusif” atau “kumuh”, “ninja” dan lain sebagainya. Sekali lagi, berkat pertolongan Alloh semata dia berhasil untuk mempertahankan dirinya supaya berada pada “rel” dien yang lurus. Akhirnya akhwat yang sholehah lah yang menjadi  ibu dari anak-anaknya sekarang.</p>
<p>Walimatul ‘ursy, dari perencanaan acara hingga menjelaa ng pelaksanaannya benar-benar menguras stamina. Seakan-akan dia berada di medan laga untuk berhadapan dengan keluarga besarnya. Yang meskipun Islam, namun memegang pedoman “<em>wong jowo ojo nganti ilang jowone</em>” (orang jawa jangan sampai hilang kejawaannya)</p>
<p>Tetapi namanya istiqomah, ternyata berat, Laa haula wa laa quwwata illaa billaah&#8230;..</p>
<p>By Prabu NU</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menjadi Umat Terbaik dengan Saling Menasehati</title>
		<link>https://alabrar.or.id/menjadi-umat-terbaik-dengan-saling-menasehati.html</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Al Abrar Contributor]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 14 Apr 2017 22:52:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tafsir Qur'an]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://alabrar.or.id/?p=238</guid>

					<description><![CDATA[Allah Ta’ala berfirman, كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh <a class="mh-excerpt-more" href="https://alabrar.or.id/menjadi-umat-terbaik-dengan-saling-menasehati.html" title="Menjadi Umat Terbaik dengan Saling Menasehati">(Selengkapnya... )</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p><strong><span class="arabic">كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ</span></strong></p>
<blockquote><p>“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imron: 110)</p></blockquote>
<p>Sebagian ulama salaf mengatakan, “Mereka bisa menjadi umat terbaik jika mereka memenuhi syarat (yang disebutkan dalam ayat di atas). Siapa saja yang tidak memenuhi syarat di atas, maka dia bukanlah umat terbaik.”</p>
<p>Para salaf mengatakan, telah disepakati bahwa amar ma’ruf nahi munkar itu wajib bagi insan. Namun wajibnya adalah fardhu kifayah, hal ini sebagaimana jihad dan mempelajari ilmu tertentu serta yang lainnya. Yang dimaksud fardhu kifayah adalah jika sebagian telah memenuhi kewajiban ini, maka yang lain gugur kewajibannya. Walaupun pahalanya akan diraih oleh orang yang mengerjakannya, begitu pula oleh orang yang asalnya mampu namun saat itu tidak bisa untuk melakukan amar ma’ruf nahi mungkar yang diwajibkan. Jika ada orang yang ingin beramar ma’ruf nahi mungkar, wajib bagi yang lain untuk membantunya hingga maksudnya yang Allah dan Rasulnya perintahkan tercapai. Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p><span class="arabic">وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ</span></p>
<blockquote><p>“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan melampaui batas.” (QS. Al Maidah: 2)</p></blockquote>
<p>Setiap rasul yang Allah utus dan setiap kitab yang Allah turunkan, semuanya mengajarkan amar ma’ruf nahi mungkar.</p>
<p>Yang dimaksud ma’ruf adalah segala istilah yang mencakup segala hal yang dicintai dan diridhoi oleh Allah.</p>
<p>Yang dimaksud munkar adalah segala istilah yang mencakup segala hal yang dibenci dan dimurkai oleh Allah.</p>
<p>Meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar adalah sebab datangnya hukuman dunia sebelum hukuman di akhirat. Janganlah menyangka bahwa hukuman meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar bukan hanya menimpa orang yang zholim dan pelaku maksiat, namun boleh jadi juga menimpa manusia secara keseluruhan.</p>
<p>Orang yang melakukan amar ma’ruf hendaklah orang yang faqih (paham) terhadap yang diperintahkan dan faqih (paham) terhadap yang dilarang. Begitu pula hendaklah dia halim (santun) terhadap yang diperintahkan, begitu pula terhadap yang dilarang. Hendaklah orang tersebut orang yang ‘alim terhadap apa yang ia perintahkan dan larang. Ketika dia melakukan amar ma’ruf nahi munkar, hendaklah ia bersikap lemah lembut terhadap apa yang ia perintahkan dan ia larang. Lalu ia harus halim dan bersabar setelah ia beramar ma’ruf nahi munkar. Sebagaimana Allah berfirman dalam kisah Luqman,</p>
<p><span class="arabic">وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ</span></p>
<blockquote><p>“Dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS. Luqman: 17)</p></blockquote>
<p>Ketahuilah bahwa orang yang memerintahkan pada yang ma’ruf dan melarang dari yang munkar termasuk mujahid di jalan Allah. Jika dirinya disakiti atau hartanya dizholimi, hendaklah ia bersabar dan mengharap pahala di sisi Allah. Sebagaimana hal inilah yang harus dilakukan seorang mujahid pada jiwa dan hartanya. Hendaklah ia melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar dalam rangka ibadah dan taat kepada Allah serta mengharap keselamatan dari siksa Allah, juga ingin menjadikan orang lain baik. Janganlah ia melakukan amar ma’ruf nahi munkar untuk tujuan mencari kedudukan mulia atau kekuasaan. Janganlah ia melakukannya karena bermusuhan atau benci di hatinya pada orang yang diajak amar ma’ruf nahi munkar. Janganlah ia melakukannya dengan tujuan-tujuan semacam ini.</p>
<p>Kadang memerintahkan pada yang kebaikan itu dengan cara yang baik dan tidak membawa dampak jelek. Kadang pula mencegah kemungkaran dilakukan dengan baik tanpa membawa dampak jelek. Sebaliknya jika menghilangkan kemungkaran malah dengan cara yang mungkar pula (bukan dengan cara yang baik), maka itu sama saja seseorang ingin mensucikan khomr (yang najis kata sebagian ulama, pen), dengan air kencing (yang najis pula, pen). Siapa yang melarang kemungkaran namun malah dengan yang mungkar, maka itu hanya membawa banyak kerusakan daripada mendapatkan keuntungan. Kadang kerugian itu sedikit atau banyak. Wallahu a’lam.</p>
<p>Sumber: <a href="https://muslim.or.id/5544-menjadi-umat-terbaik-dengan-saling-menasehati.html">https://muslim.or.id/5544-menjadi-umat-terbaik-dengan-saling-menasehati.html</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Renungan Pagi</title>
		<link>https://alabrar.or.id/renungan-pagi.html</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Al Abrar Contributor]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 14 Apr 2017 22:48:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://alabrar.or.id/?p=211</guid>

					<description><![CDATA[Aku belajar dengan lebih banyak diam, daripada lebih banyak bicara&#8230; Aku belajar bersabar dari sebuah kemarahan&#8230; Aku belajar mengalah dari sebuah keakuan&#8230; Aku belajar tersenyum <a class="mh-excerpt-more" href="https://alabrar.or.id/renungan-pagi.html" title="Renungan Pagi">(Selengkapnya... )</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em>Aku belajar dengan lebih banyak diam, daripada lebih banyak bicara&#8230;</em></p>
<p><em>Aku belajar bersabar dari sebuah kemarahan&#8230;</em></p>
<p><em>Aku belajar mengalah dari sebuah keakuan&#8230;</em></p>
<p><em>Aku belajar tersenyum dari suatu kesedihan&#8230;</em></p>
<p><em>Aku belajar tegar dari suatu kehilangan&#8230;</em></p>
<p><em>Hidup adalah belajar&#8230;</em></p>
<p><em>Belajar bersyukur meski tak puas&#8230;</em></p>
<p><em>Belajar ikhlas meski tak rela&#8230;</em></p>
<p><em>Belajar taat mesti berat&#8230;</em></p>
<p><em>Belajar memahami meski tak sehati&#8230;</em></p>
<p><em>Belajar sabar meski terbebani&#8230;</em></p>
<p><em>Belajar memberi walau tak seberapa&#8230;</em></p>
<p><em>Belajar mengasihi meski tersakiti&#8230;</em></p>
<p><em>Belajar tenang meski gelisah&#8230;</em></p>
<p><em>Belajar percaya diri meski sulit&#8230;</em></p>
<p><em>Belajar tabah meski ujian banyak menerpa..</em></p>
<p><em>Aku belajar.. bahwa tidak semua saat hidup ini indah, kadang Allah menyapaku melalui berbagai cara. Tapi aku tahu bahwa DIA tidak pernah meninggalkanku. Sebab itu aku belajar menikmati hidup dengan bersyukur&#8230;</em></p>
<p><em>Aku belajar bahwa tak semua yang ku harapkan bisa menjadi kenyataan, kadang Allah membelokkan rencanaku KARENA TAK SESUAI DENGAN RENCANA-NYA. Tetapi aku tahu bahwa itu lebih baik dari yang mampu kurencanakan. Sebab itu aku belajar menerima semua dengan suka cita.</em></p>
<p><em>Aku belajar bahwa ujian itu pasti datang dalam hidupku, karena Allah pasti menguji hamba-Nya yang beriman..</em></p>
<p><em>Aku belajar bahwa tida ada kejadian yang harus disesali dan ditangisi, karena semua adalah rancangan-Nya yang indah. Maka itu aku belajar bersabar dan bersyukur dalam semua perkara.</em></p>
<blockquote><p><em><strong>KARENA HIDUP ADALAH BELAJAR.</strong></em></p>
<p>Ketika HIDUP sudah tak mampu dihadapi, maka BERSABARLAH, BERSUJUDLAH, BERSERAH DIRILAH DAN BERDO&#8217;ALAH.</p>
<p>Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar&#8230; (Q.S Al Baqarah {2} ayat 153).</p></blockquote>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Akibat Berbuat Riba</title>
		<link>https://alabrar.or.id/akibat-berbuat-riba.html</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Al Abrar Contributor]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 14 Apr 2017 22:42:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://alabrar.or.id/?p=268</guid>

					<description><![CDATA[Dalam kehidupan sekarang ini, banyak kita dapatkan di sekeliling kita, kaum muslimin yang bermudah-mudah mencari jalan pintas mendapatkan harta, seperti mobil dan rumah, dengan melakukan <a class="mh-excerpt-more" href="https://alabrar.or.id/akibat-berbuat-riba.html" title="Akibat Berbuat Riba">(Selengkapnya... )</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam kehidupan sekarang ini, banyak kita dapatkan di sekeliling kita, kaum muslimin yang bermudah-mudah mencari jalan pintas mendapatkan harta, seperti mobil dan rumah, dengan melakukan transaksi riba.<br />
Dalam kehidupan sekarang ini, banyak kita dapatkan di sekeliling kita, kaum muslimin yang bermudah-mudah mencari jalan pintas mendapatkan harta, seperti mobil dan rumah, dengan melakukan transaksi riba. Padahal, pelaku riba mendapatkan ancaman dari Allah <em>Ta’ala</em>. Berikut ini kami sampaikan dua ayat dalam Al Qur’an tentang ancaman bagi pelaku riba, sebagai peringatan untuk kita semuanya.</p>
<h4>Dibangkitkan dari Kubur dalam Keadaan Gila</h4>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span class="arabic">الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ</span></p>
<blockquote><p><em><strong>“Orang-orang yang makan (mengambil) riba, tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu disebabkan mereka berkata (berpendapat) bahwa sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang </strong>larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” </em>(QS. Al Baqarah [2]: 275)</p></blockquote>
<p>Ibnu Katsir <em>rahimahullah </em>berkata ketika menjelaskan ayat di atas,<em>”</em>Maksudnya, tidaklah mereka berdiri (dibangkitkan) dari kubur mereka pada hari kiamat kecuali seperti berdirinya orang yang kerasukan dan dikuasai setan.” (<em>Tafsir Ibnu Katsir, </em>1/708)</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin <em>rahimahullah </em>menjelaskan,”Para ulama berbeda pendapat tentang ayat ini. Apakah maksud ayat ini adalah mereka tidaklah bangkit dari kubur mereka pada hari kiamat kecuali dalam kondisi semacam ini, <strong>yakni bangkit dari kubur seperti orang gila atau kerasukan setan.</strong> Atau maksudnya adalah mereka tidaklah berdiri untuk bertransaksi riba (di dunia), (yaitu) mereka memakan harta riba seperti orang gila karena sangat rakus, tamak, dan tidak peduli. Maka ini adalah kondisi (sifat) mereka (pelaku riba) di dunia. Yang benar, jika sebuah ayat mengandung dua kemungkinan makna, maka ditafsirkan kepada dua makna tersebut semuanya.” (<em>Syarh Riyadhus Shalihin,</em> 1/1907)</p>
<h4>Allah akan Menghancurkan Harta Riba</h4>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: right;"><span class="arabic">يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ</span></p>
<p>“<strong><em>Allah memusnahkan riba</em></strong><em> </em><em>dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.” </em>(QS. Al Baqarah [2]: 276)</p>
<p>Ini adalah hukuman di dunia bagi pelaku riba, yaitu Allah akan memusnahkan atau menghancurkan hartanya. “Menghancurkan” ini ada dua jenis:</p>
<p><strong>Pertama, </strong>menghancurkan yang bersifat konkret. Misalnya pelakunya ditimpa bencana atau musibah, seperti jatuh sakit dan membutuhkan pengobatan (yang tidak sedikit). Atau ada keluarganya yang jatuh sakit serupa dan membutuhkan biaya pengobatan yang banyak. Atau hartanya terbakar, atau dicuri orang. Akhirnya, harta yang dia dapatkan habis dengan sangat cepatnya.</p>
<p><strong>Ke dua, </strong>menghancurkan yang bersifat abstrak, yaitu menghilangkan (menghancurkan) berkahnya. Dia memiliki harta yang sangat berlimpah, akan tetapi dia seperti orang fakir miskin yang tidak bisa memanfaatkan hartanya. Dia simpan untuk ahli warisnya, namun dia sendiri tidak bisa memanfaatkan hartanya. (Lihat penjelasan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin di <em>Syarh Riyadhus Shalihin,</em> 1/580 dan 1/1907).</p>
<p>Sumber:<br />
<a href="https://muslim.or.id/23654-balasan-bagi-pelaku-riba-dalam-al-quran.html">https://muslim.or.id/23654-balasan-bagi-pelaku-riba-dalam-al-quran.html</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tafsir al Maidah 51</title>
		<link>https://alabrar.or.id/tafsir-al-maidah-51.html</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Al Abrar Contributor]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 14 Apr 2017 22:30:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tafsir Qur'an]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://alabrar.or.id/?p=222</guid>

					<description><![CDATA[يٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَتَّخِذُوا۟ ٱلْيَهُودَ وَٱلنَّصٰرَىٰٓ أَوْلِيَآءَ ۘ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْضٍ ۚ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُۥ مِنْهُمْ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلظّٰلِمِينَ <a class="mh-excerpt-more" href="https://alabrar.or.id/tafsir-al-maidah-51.html" title="Tafsir al Maidah 51">(Selengkapnya... )</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span class="arabic" style="text-align: right;"><span style="text-align: right;">يٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَتَّخِذُوا۟ ٱلْيَهُودَ وَٱلنَّصٰرَىٰٓ أَوْلِيَآءَ ۘ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْضٍ ۚ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُۥ مِنْهُمْ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلظّٰلِمِينَ</span></span></p>
<blockquote><p>Wahai orang-orang beriman!!! kalian janganlah menjadikan orang yahudi dan nashoro sebagai wali, sebagian mereka adalah wali sebagian mereka, dan barang siapa di antara kalian yang menjadikan mereka sebagai wali maka dia termasuk dari mereka, sesungguhnya allah itu (Al Maidah 51)</p></blockquote>
<p>Al-Maidah 51 jelas jelas menyampaikan bahwa biarkan umat yang percaya. Tidak berteman dengan Yahudi, karena mereka hanya bersahabat dengan dirinya sendiri.</p>
<p>Itu tidak berarti kita tidak boleh berbicara dengan mereka. Itu artinya, apabila kita menjaga persahabatan, itu tidak masalah. Namun sebagai pelindung, apabila kita Islam untuk mencari perlindungan kepada Allah dan yang mempercayai Allah.</p>
<p>Alquran, bila kita bisa berbaik sangka, kita harus berbaik, kita harus bisa membantu. Akan tetapi, untuk pelindung, sebagai pelindung, ada banyak ayat lainnya juga di Alquran. Umat yang percaya sebagai teman dan pelindung, jadi ada dua opsi. Untuk sebagai pelindung, Alquran bilang hanya muslim saja. Karena apabila kalau tidak melakukan hal ini, kita tidak dapat bantuan dan pertolongan.[1]</p>
<p>Di ayat lainnya di Alquran, barang siapa yang percaya untuk sebagai pelindung, apabila kita melakukannya, kita memberikan bukti kepada Allah SWT. Ada banyak sekali ayat dan kita bisa bahas ini. Jadi teman membantu tidak masalah. Berbuat baik tidak masalah. Kita tidak boleh berbuat kejahatan.</p>
<p>Alquran bilang bahwa Allah melarang berbuat tidak adil kepada nonmuslim. Apabila mereka mengusir kita dari rumah, maka kita tidak bisa…</p>
<p>Jadi Islam menganjurkan berbuat baik kepada nonmuslim. Tapi untuk perlindungan, apabila ada pilihan orang Islam, untuk perlindungan, untuk kepemimpinan, yang muslim jauh lebih baik daripada nonmuslim.⁠⁠⁠⁠</p>
<p>sumber:</p>
<p>[1] <a href="http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/16/10/10/oet4q1-terjemahan-surat-al-maidah-51-menurut-tafsir-jalalain-dan-departemen-agama">http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/16/10/10/oet4q1-terjemahan-surat-al-maidah-51-menurut-tafsir-jalalain-dan-departemen-agama</a></p>
<p><span id="more-222"></span></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/

Object Caching 0/122 objects using Memcached
Page Caching using Disk: Enhanced 
Lazy Loading (feed)
Database Caching using Redis (Request-wide modification query)

Served from: alabrar.or.id @ 2026-04-02 09:35:05 by W3 Total Cache
-->